Translate

Penelusuran Berita

Senin, 04 Mei 2026

Juara 3 lomba musik sape


 Dalam semangat melestarikan seni dan budaya daerah, musisi tradisional muda Opit Sape berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Festival Budaya yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan bersama Keroan Koetai Bersatu. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 05 Mei 2026 di Aula Dinas Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya Nusantara, khususnya seni tradisional Kalimantan.

Dalam penampilannya, Opit Sape memukau para penonton dan dewan juri melalui alunan musik Sape yang khas dan penuh penghayatan. Permainan instrumen tradisional Dayak tersebut berhasil menghadirkan nuansa etnik yang harmonis, sekaligus memperlihatkan bahwa musik tradisional mampu bersaing dan tetap diminati di tengah perkembangan zaman modern.

Festival budaya ini diikuti oleh berbagai peserta dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur dengan menampilkan beragam pertunjukan seni, mulai dari musik tradisional, tari daerah, hingga pertunjukan budaya lokal lainnya. Kehadiran para peserta muda menjadi bukti bahwa generasi sekarang masih memiliki semangat besar dalam menjaga warisan budaya leluhur.

Prestasi yang diraih Opit Sape diharapkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya untuk terus berkarya dan mencintai budaya daerah. Selain menjadi ajang kompetisi, festival ini juga mempererat hubungan antar pelaku seni serta memperkuat identitas budaya Kalimantan Timur di tengah arus globalisasi.


Selasa, 21 April 2026

Mengulik Sape Di Kegiatan Workshop dan Bedah Buku Mengenal Tradisi Kalimantan Timur dan Tari Jepen


Workshop dan bedah buku bertajuk “Budaya Kita, Indentitas Kita, Warisan TakmBenda Untuk Masa Depan” sukses diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026, di Aula Oemar Dahlan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana yang bertujuan memperkuat literasi budaya dan pelestarian tradisi lokal. Bedah Buku dan Workshop Tari Jepen sukses diselenggarakan dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Dra. Hj. Novarita, M.M. dan Rachmawati. Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus inspiratif dalam mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.

Sabtu, 11 April 2026

Mengulik Sape di Kegiatan Workshop Menenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar

Kegiatan Workshop Menenun Ulap Doyo serta Sulam Tumpar yang diselenggarakan oleh TBM Iqro Lempake melalui dana abadi Danaindonesiana,  menjadi ruang edukatif yang mempertemukan literasi dan praktik budaya dalam satu rangkaian kegiatan inspiratif. Workshop ini tidak hanya memperkenalkan teknik menenun dan menyulam, tetapi juga menanamkan nilai penting pelestarian budaya lokal Kalimantan Timur kepada generasi muda.

Ulap Doyo sendiri merupakan salah satu warisan budaya khas Kalimantan Timur yang memiliki nilai historis dan filosofi tinggi, sekaligus berpotensi menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai jual (MEDIA KALTIM). Dalam kegiatan ini, peserta diajak mengenal proses pembuatan kain tradisional tersebut, mulai dari bahan hingga teknik pengerjaannya, serta memahami makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Suasana kegiatan semakin hidup dengan kehadiran Opit Sape yang turut mengulik alat musik tradisional Sape’. Melalui penampilannya, Opit tidak hanya menghadirkan alunan musik khas Dayak yang menenangkan, tetapi juga memberikan pemahaman tentang karakter suara, teknik permainan, serta filosofi yang terkandung dalam instrumen tersebut. Interaksi ini menjadi jembatan antara seni musik dan kriya tradisional, sehingga peserta mendapatkan pengalaman budaya yang lebih utuh.

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi, baik saat praktik menenun maupun ketika menyimak penjelasan dan pertunjukan musik. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif antara literasi, seni, dan budaya mampu menjadi metode efektif dalam memperkenalkan warisan lokal.

Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga memiliki rasa bangga dan tanggung jawab untuk melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

Minggu, 08 Maret 2026

Mengulik Sape pada Kegiatan Iftar Jama'i Ramadhan Di Langit Do'a, Swissbell Hotel

Kegiatan “Ramadhan di Langit Doa” yang diselenggarakan oleh Rumah Amal Generasi Langit berlangsung dengan penuh kehangatan dan nuansa kebersamaan di Swiss-Belhotel Samarinda, Ahad (8/3/2026). Acara ini menghadirkan momen berbuka puasa bersama anak-anak yatim binaan, sekaligus menampilkan berbagai pertunjukan seni yang sarat makna.

Salah satu penampilan yang paling menarik perhatian adalah penampilan Kak Opit Sape, seorang musisi yang dikenal dengan alat musik tradisional khas Kalimantan, sape’. Dalam kesempatan tersebut, Kak Opit membawakan tiga lagu yang penuh nilai budaya dan spiritual, yaitu “Datun Julud”, “Ramadhan”, dan “Bungong Jeumpa”.

Minggu, 18 Januari 2026

Mengulik Sape Rutin di Samarinda Theme Park


Setiap sore, Samarinda Theme Park menghadirkan suasana berbeda melalui alunan musik tradisional Sape’ yang menenangkan. Di tengah hiruk-pikuk wahana dan aktivitas pengunjung, denting lembut Sape’ mengalir sebagai pengingat akan kekayaan budaya Dayak yang terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.

Jumat, 16 Januari 2026

Tampil Sape di Firepot Restoran memenuhi Undangan Bhayangkari Polresta Samarinda


Opit Sape menampilkan alunan musik tradisional sape dalam perjamuan makan siang yang digelar atas undangan Ibu Bhayangkari Bhayangkari Polresta Samarinda di Firepot Restoran. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyambutan tamu-tamu Bhayangkari dari seluruh Indonesia yang hadir di Samarinda.

Dengan penuh penghayatan, Opit membawakan beberapa lantunan khas Kalimantan Timur menggunakan sape, alat musik petik tradisional Dayak yang memiliki suara lembut dan menenangkan. Petikan senar yang harmonis menghadirkan suasana hangat, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada para tamu undangan.

Penampilan Opit Sape mendapat apresiasi dari para hadirin. Alunan musik yang syahdu dinilai mampu menciptakan suasana akrab dan penuh kekeluargaan selama perjamuan berlangsung. Kehadiran musik tradisional ini juga menjadi simbol penghormatan kepada para tamu serta wujud pelestarian seni budaya lokal di tengah acara resmi yang sarat makna kebersamaan.